“Pantasan banyak anak-anak
kami di daerah yang tidak pintar, baru mereka tidak pernah minum ASI lama yadi...”
dengan nada terheran-heran dan logat Papua asli,
Pak
Agus Wenda
mengungkapkan apa yang dia tahu setelah mengikuti kegiatan pelatihan IMD yang
kami lakukan di Wamena beberapa waktu lalu. Tuesday, April 24, 2012
“Bagiku itu hal baru” – Cerita Agus Wenda
“Pantasan banyak anak-anak
kami di daerah yang tidak pintar, baru mereka tidak pernah minum ASI lama yadi...”
dengan nada terheran-heran dan logat Papua asli,
Pak
Agus Wenda
mengungkapkan apa yang dia tahu setelah mengikuti kegiatan pelatihan IMD yang
kami lakukan di Wamena beberapa waktu lalu. Friday, April 13, 2012
“I Can!” – Samince’s Story
"Come quickly ..." said Mr. Tsamani. A group of children appear rushed into the yard of a house used by the WVI as an operational office in Tiom. Mr. Tsamani is a Marching Band coach that was contracted by WVI for a year to teach children in Tiom. WVI was over a year working with Lanny Jaya regency government to nurture about 50 children to manage the Marching Band. This Marching Band then called “Lanny Jaya Marching Band”.A child looks half running trying to go ahead of his peers. With his tiny body seems she managed to stay ahead fr
om her colleagues to enter the yard of WVI office. Her name is Samince Kogoya. This first child of two siblings goes to school in the eighth grade of SMP 1 Tiom. By rushing Samince take a musical instrument she used. That instrument is a Belyra. That day the children who used to practice every day will show off skills in public of Lanny Jaya. It was the day the world AIDS day campaign. Marching band will go before leading a group of students."I am delighted to be practicing with my friends" says Samince. "The coach is also good, though we often get yelled at, but we know it all so that we can do better" she continued. Samince has to walk every day about 30 minutes to get to school. Her parents work as daily workers in the health center of Tiom. "This one kid has shown pretty good progress" Tsamani said about Samince. "Of all the areas we've ever coached, this is where we find the most formidable challenge" continues Tsamani. These children had never studied
music. The coach must teach them the basics of music before they can play a musical instrument."Let's march!" shouted Novianto, another coach. The children, including Samince immediately form a neat line. The coach then gives the signal with his hand. In a short time the two songs were heard blaring in the middle of silence at the time. In this condition they also lined the move toward market Tiom. In accordance with the instructions of trainers, they will begin to appear on the market Tiom and then head of government offices.

Wednesday, March 14, 2012
“KENAPA TIDAK DULU-DULU?”

Pak Jerman Wenda sangat bangga dengan Alat Peraga yang dibuat bersama rekan-rekannya dari tumbuhan. Saat ia mempresentasikan hasil Alat Peraga buatan kelompoknya, saking semangatnya ia mengatakan “kenapa tidak dulu-dulu?” Maksudnya kenapa tidak dari dulu mereka diperkenalkan dengan cara penggunaan alat peraga seperti ini?
Alat Peraga yang diceritakan diatas, dibuat pada saat kegiatan training PAKEM Dasar tanggal 8 Maret 2012 bertempat di SD Inpres Tiom yang dihadiri 20 guru dari beberapa SD di wilayah Kabupaten Lanny Jaya, dengan fasilitator dari Dinamika Edukasi Dasar (DED) Jogjakarta bermitra dengan Wahana Visi Indonesia-ADP Eruwok. Pelatihan ini ternyata sanggup memberikan dampak yang positif dimana hampir semua guru-guru menunjukkan semangat yang luar biasa selama 1 (satu) hari training PAKEM Dasar tersebut.
Sebagai organisasi yang bergerak di bidang pengembangan masyarakat, kita berharap semangat guru seperti pak Jerman Wenda tidak berakhir sampai selesainya kegiatan Training PAKEM ini, tetapi terus bergelora di dalam dada para guru yang lain sehingga semangat dan kualitas guru dapat ditingkatkan untuk masa depan pendidikan di Kabupaten Lanny Jaya yang lebih baik.
(Penulis: Phillip Goraph – CDC ADP Eruwok)



