Friday, June 10, 2011

Education Workshop Celebrating National Education Day – Kristiana’s Story

“This is my first time speaking in front of such stakeholders” said Kristiana when we asked her feeling and opinion after she attended a workshop celebrating National Education Day that celebrated on May 30, 2011 at Sasana Wio (a meeting room at Jayawijaya District Head Office). “At first I was bashful, not now what I’m going to say or ask in front of such audience” she continued.

As the youngest child in her family, Kristiana age is so distant to her siblings. She has one brother that already in college and two brothers are high school students. Kristiana herself is still in the sixth grade of elementary school. She studies at Tobanapme elementary school in Makki sub district. Even in the family Kristiana rarely speak up for herself. “In my family, we seldom spent time to speak to each other in form of discussion or speak about a topic” said Kristiana when we asked her if there was chance to discuss something (like speaking up problems and how to counter it) in her family. “WV staff helped me to learn of being confidence and told me that as children I have several rights that adolescence needs to listen and fulfill those basic rights” she continued.

Her father is Eli Kogoya who works as health officer in Makki Health Center. Her father actively involved in one of WV activities which is nutrition post (Pos Gizi) and integrated health post (Posyandu). Her mother is Merlina Wenda who works as midwife at the same health center with Kristiana’s father. Kristiana come from a village called Kemiri. This village gets support from WV in its nutrition project with positive deviance approach. During the education workshop to celebrate National Education Day, Kemiri village sent 4 sponsored children to participate in the celebration. The children were asked to speak up questions regarding education and learning process situation that happened in their village through the opinion of the child. The opinions poured in form of a letter that read in the celebration. Key note speakers that came from Education Department (Jakarta), Provincial Education Office of Jayapura, and district education office of Jayawijaya and Lanny Jaya were expected to comments on those children opinions.

“I want my teachers spent all day within a month in my school, I don’t want my teachers often go to Wamena just to get their wages” read Kristiana. “Sometimes, they spent half month just to wait for their wages that we did not received enough lesson in school. Local government has to pay serious attention on this problem” she read again. Though Kristiana read the letter hesitantly, all participants pay fully attention on her.

“We will try to do our best. In teachers’ placement, we have to coordinate this matter with civil employee affairs department” said Purnomo, the secretary of Lanny Jaya education office in responding to Kristina’s letter. “As for delivery teacher wages, we will coordinate to our financial office that teachers should accept their rights in time, so there will be no reasons they not teaching just to wait for wages” Purnomo continued. Purnomo also said as a new district, Lanny Jaya still need to learn form established district about so many systems including developing teachers’ quality. As new district several facilities for teachers still in developing process, this situation made some teachers not comfortable to be in his or her placement schools. In the future the government of Lanny Jaya will still focused on developing facilities for schools as this is the basic needs for teachers to be in his or her location.

“I’m glad to hear children have courage to speak up about education situation in their village” said James Modow – head of provincial education office. “Local government should pay attention seriously on these children opinion. If it is necessary to hold a discussion with them to improve education system in the future” he continued.

Kristiana’s face was gleamed hearing the response to her letter. Although at first she was embarrassed and not confidence, at least a promise was made, a promise to improve education situation in her village that will be better than before, a hope that she will share with her colleagues in school or maybe to other children in another school.

Good luck Kristiana!

Posted by Willy Sitompul for Eruwok Development

Di Jayawijaya 300 Orang Meninggal Karena HIV-AIDS

Kutipan Berita Cenderawasih Pos
Senin, 30 Mei 2011 , 07:14:00


WAMENA-Sebagai salah satu bentuk keprihatinan terhadap penyebaran HIV-AIDS, Youth Forum Baliem Peace Jayawijaya didukung Pemda Jayawijaya, KPA Jayawijaya, Wahana Visi Indonesia (WVI) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak dalam HIV-AIDS menggelar kegiatan Candlelight memorial 2011 di halaman kantor Bupati Jayawijaya, Sabtu (28/) malam.

Kegiatan tersebut diisi berbagai acara seperti drama pertunjukan oleh generasi muda dari Youth Baliem Peace Jayawijaya dan pembacaan firman Tuhan. Meski diwarnai hujan rintik, namun kegiatan tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat terutama generasi muda, ini terlihat dari antusias yang memadati jalan raya depan kantor bupati Jayawijaya tersebut.

Kepala Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jayawijaya Daulat M mengatakan, pihaknya menyambut baik dan mendukung penuh kegiatan yang digelar oleh Youth Forum Baliem Peace Jayawijaya, pasalnya melalui kegiatan tersebut diharapkan bisa menjadi media informasi kepada generasi muda terhadap bahaya dan dampak dari HIV-AIDS.

“Sampai triwulan pertama 2011 (akhir Maret red.) jumlah yang terinfeksi HIV-AIDS yang tercatat yaitu 1218 orang, dari jumlah tersebut 40 persen diantaranya atau sekitar 300 orang lebih meninggal dunia karena HIV-AIDS,”jelas Daulat kepada wartawan disela kegiatan.


Dikatakan, dari 1218 sebagian besar yang terinveksi adalah usia produktif yaitu antara 15 tahun sampai 39 tahun. “Kami berharap melalui kegiatan seperti ini dapat menggugah kesadaran seluruh lapisan masyarakat terutama generasi muda terhadap penyakit HIV-AIDS, sehingga ke depan Jayawijaya bisa terbebas dari HIV-AIDS,”pungkasnya.

Sementara itu pimpinan Youth Forum Baliem Peace Jayawijaya Nies Tabuni mengungkapkan, pihaknya menggelar kegiatan tersebut untuk memberi contoh kepada generasi muda agar berbuat baik dan kembali ke jalan yang benar. “Kami sangat prihatian dengan apa yang dialami oleh generasi muda saat ini, untuk itu malam ini kami memperlihatkan drama dan kesaksian Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA), dengan harapan agar anak-anak muda bisa kembali ke jalan yang benar,”tandasnya. (lmn/tho)

Foto:Muslimin/Cenderawasih Pos
Nampak anak dari Youth Forum Baliem Peace Jayawijaya menampilkan drama teatrikal dalam kegiatan Candlelight memorial 2011 di halaman kantor Bupati Jayawijaya, Sabtu (28/5) malam.

Re-posted by Willy Sitompul

Monday, May 2, 2011

HIV dan AIDS Keprihatinan dari Lembah Baliem - Sumber : Kompas, Kamis 31 Maret 2011

Dengan terbata-bata, Jacky membacakan seluk-beluk berbagai jenis penyakit kelamin, seperti sifilis, gonore, dan masalah HIV/AIDS, dari sebuah buku. Melalui sebuah mikrofon, informasi kesehatan itu tersebar hingga radius 20 kilometer di seluruh kota Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Papua.

Jacky yang bernama asli Yakub Tamaka (17) adalah siswa kelas XII SMA PGRI, Wamena. Selasa (22/2) sore itu, bersama teman-temannya yang sebagian besar pelajar SMA, Jacky mengisi acara Kesehatan Keluarga di Radio Voice of Baliem Children (VBC) atau Suara Anak Baliem. Radio ini dikelola oleh Wahana Visi Indonesia, mitra kerja World Vision Indonesia.
Secara bergantian, mereka menerangkan dari gejala, cara penularan, pengobatan, hingga cara pencegahan berbagai penyakit kelamin dan HIV/AIDS. Untuk menarik anak-anak muda mendengarkan siaran radio itu, informasi disampaikan dengan diselingi lagu-lagu Justin Bieber yang sedang ngetop di kalangan anak muda.
Bagi remaja Indonesia umumnya, penyakit kelamin dan HIV/AIDS masih sekadar pengetahuan di bangku sekolah yang perlu diwaspadai dan dihindari. Membahas hal-hal tersebut di tempat umum masih dianggap janggal dan tabu. Bahkan, penyakit yang sering disebabkan oleh perilaku seksual tak sehat itu sering menjadi bahan gurauan.
Namun, bagi remaja di Pegunungan Tengah Papua, penyakit kelamin dan HIV/AIDS adalah tantangan yang harus mereka hadapi. Bukan sekadar teori atau bahan pelajaran kesehatan, HIV/AIDS hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Upaya anak-anak muda membawa penyakit kelamin dan HIV/AIDS ke ranah publik itu mendobrak kebuntuan sosialisasi HIV/AIDS akibat keengganan orang dewasa di Wamena untuk membahas persoalan tersebut.
Untuk menyebut nama HIV/AIDS saja, banyak orang dewasa yang menghindarinya, terutama apabila ada keluarga atau kerabat yang mengalami gejala berbagai penyakit akibat penurunan daya tahan tubuh secara terus-menerus. Mereka menyebut HIV/AIDS sebagai penyakit ”salah jalan” atau penyakit ”itu sudah”.
Berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Jayawijaya per 31 Desember 2010, jumlah pengidap HIV/AIDS di daerah itu mencapai 1.068 orang. Perinciannya, 259 pengidap HIV dan 809 penderita AIDS. Pengidap HIV yang berusia antara 15 tahun dan 19 tahun mencapai 57 orang serta yang terkena AIDS mencapai 117 orang.
”Jika pada usia 15 tahun sudah terkena AIDS, ia terinfeksi HIV sekitar 3-4 tahun sebelumnya. Dapat dibayangkan, pada usia sangat muda, mereka sudah mengenal hubungan badan tak sehat,” kata Rachmat Willy Sitompul, dokter yang mengelola VBC.
Anak-anak itu, Willy melanjutkan, kemungkinan besar tertular HIV/AIDS dari hubungan badan yang dilakukan dengan orang dewasa atau teman sebaya. Padahal, perilaku seks orang dewasa di Papua umumnya sangat berisiko karena sering berganti pasangan dan rendahnya kesadaran untuk menggunakan kondom.
Hasil Surveilans Terpadu HIV dan Perilaku (STHP) di Papua pada tahun 2006 yang dilakukan Departemen Kesehatan (sekarang Kementerian Kesehatan) dan Badan Pusat Statistik menunjukkan, hubungan seks pertama pada usia di bawah 15 tahun cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
Survei menunjukkan, sebanyak 54,7 persen laki-laki melakukan hubungan seks pertama dengan teman dan 3 persen dengan pekerja seks. Adapun hubungan seks pertama perempuan dengan temannya mencapai 23,8 persen dan 0,1 persen dengan pekerja seks. Sisanya melakukan hubungan seks pertama dengan suami atau istri.
Penggunaan kondom sangat rendah. Data STHP menunjukkan, hanya 2,8 persen orang dewasa di Papua yang menggunakan kondom saat berhubungan badan.
Jumlah pengidap HIV/AIDS di Papua diperkirakan hanya puncak dari fenomena gunung es. Kondisi itu ditopang sikap masyarakat yang cenderung tertutup terhadap HIV/AIDS serta akses kesehatan yang sulit dan terbatas di daerah Pegunungan Tengah.
Pergaulan bebas
David Tangke (18), penyiar VBC lain yang juga siswa SMAN 1 Wamena, menuturkan, pergaulan bebas telah menjadi perilaku sebagian anak muda Wamena. Lemahnya pengawasan orangtua yang cenderung tak peduli, sikap anak yang ingin bebas karena merasa sudah dewasa, dan perasaan agar tak dianggap remeh oleh teman-teman sebaya membuat hubungan seks di luar pernikahan sering terjadi.
Tradisi tukar gelang, yang dahulu dilakukan oleh orangtua mereka pada masa remaja untuk mencari jodoh, kini berubah makna menjadi pencarian rekan untuk berhubungan seks. Masuknya pornografi dengan mendompleng teknologi, baik melalui telepon seluler maupun keping cakram, semakin mendorong terjadinya hubungan badan pada usia dini.
Hubungan seks tak sehat itu menyebabkan puluhan teman David, baik di bangku SMP maupun SMA, hamil di luar nikah. ”Hanya 25 persen dari kasus yang ada, pihak laki-lakinya mau bertanggung jawab,” katanya.
Obrolan tentang pendidikan seks itu tak berakhir di ruang siar. Para penyiar VBC yang berjumlah empat orang juga aktif menjadi penyuluh pendidikan seks bagi teman mereka.
”Di luar siaran, banyak teman yang bertanya lebih lanjut tentang penyakit kelamin. Kalau dengan kami yang sebaya, mereka bisa bertanya dengan enak tanpa perlu malu,” kata Elvis Arthur Kuway (20), yang memiliki nama siar Pazort.
Jacky menambahkan, saat bertemu dengan teman-temannya, informasi tentang penyakit kelamin lebih mudah disampaikan dengan bahasa yang dimengerti anak muda serta dengan gambar-gambar untuk membuat mereka lebih memahami penyakit kelamin dan HIV/AIDS.
”Tanpa mereka paham penyakitnya, sulit bagi teman-teman untuk mengetahui risikonya,” kata Jacky.
Meski demikian, upaya untuk mengubah kebiasaan seks di luar pernikahan di kalangan remaja Wamena, mereka akui, bukan hal gampang. Kebiasaan buruk itu perlu diubah secara perlahan dengan penyampaian informasi yang benar tentang penyakit kelamin dan secara terus- menerus. (M Zaid Wahyudi)
Posted by: Willy Sitompul (dengan gambar yang berbeda dari edisi Kompas 31 Maret 2011)

Tuesday, April 12, 2011

Channel of Hope Workshop for Moslem Context – Hajee Abdul Latief Yaleget’s Story

It was rainy that day when Abdul Latief fastens his steps to Pilamo meeting room. He had received a special invitation to be participants of Channel of Hope workshop run by World Vision that day. This workshop will run for three days as participants selected from Moslem leaders of all areas in Wamena city. While Christian is a major religion in Jayawijaya district still several village occupied by Moslems. These Moslem communities in Wamena are very unique as most of them are indigenous. Abdul Latif is one of them. His family name is Yaleget. A common family name found in the village of Walesi. Abdul Latief has 2 wives as in Moslem is not prohibited to have more than one wife. He married with Wiwit Asso and several years later with Yuli Lanny. He has 4 children from both of his wives.

As a hajee (one who has made the pilgrimage to Mecca), Abdul Latief often preach in government religious activities while daily he has to take control on day to day religious activities in Al-Falah Mosque in Walesi village. “I never know about HIV and AIDS before!” said Latief. “This workshop had given me a wider approach on overcoming HIV and AIDS in my village” he continued. Attending Channel of Hope workshop is the first activity on HIV and AIDS he had been involved with. Before, neither specific health socializations nor illuminations he had received. He always thought that HIV and AIDS are far away from his village.

“I’m very glad to be participant in this workshop, World Vision had brought me into new ideas and roles to be taken as I’m a religious leader” said Latief. He also said that no organization involving Moslem leaders before. He said that maybe since Moslem is minority no organization involving them in HIV prevention activities. “Before, I thought HIV will never come to my family or my village. But day by day there was always some one get sick without knowing what the disease is. Now I realized what the disease is and what the cause is. I have to spread this information I’ve receive from World Vision to my people in the village, forming a community that care about prevention of HIV and AIDS” he continued.

The “Channels of Hope” programme aims to mobilize faith communities through process-driven workshops and the commitment and dedication of trained facilitators. It was first developed by CABSA (Christian AIDS Bureau for Southern Africa at the Huguenot College) and in 2004 adopted by World Vision Hope Initiative as a core HIV & AIDS model.

Pak[1] Latief is very concern about all materials given in this workshop” said Ustad [2]Daden one of the facilitators came from Sukabumi (Java). “He is very active and willing to learn a lot of new things during the workshop. I believe he will be a good speaker promoting HIV and AIDS prevention in his mosque and community” Daden continued.

When we asked about the nearest plan that Pak Latief will take after the workshop, he said “I will spread the information especially for children and teenagers as I’m aware they should know first about this information before they involved in danger situation that could brought them to HIV transmission”. We smiled that day. Though it was raining outside there will always a sun shining after the rain. Good luck Pak Latief!


[1] Common greetings title to respect older person (male) in Indonesia

[2] Common term of title used in Moslem for male person with broader or special knowledge of Islam.

Workshop Saluran Harapan Konteks Muslim – Cerita Hairudin


Bapak yang bernama Hairudin Wania ini mempunyai 1 istri yang bernama ibu Salwiya Rumaratu yang di karuniai 4 anak yaitu 3 laki – laki yang bernama Abu baker ( SMA ), Sulaiman ( SMP ), dan Alhadi yang masih kecil, sedangkan yang perempuan bernama Ferlian yang masih duduk di bangku SD.

Ibu Salwiya istri bapak Hairudin ini berprofesi sebagai guru yang mengajar di Madrasah Ibtidaiyah kelas 4- 6 SD. Pak Hairudin selain berjemaah di Masjid Al-Aqso Walesi ini ternyata juga merupakan aktifis dari beberapa organisasi lain diantaranya yaitu Ketua Senat Mahasiswa STIA YAPIS, Ketua HMI Jayawijaya, BKPRMI ( Badan Koordinasi Pemuda Remaja Muslim Indonesia ), dan Sekretaris 1 KNPI. “Setiap ada kegiatan tentang HIV & AIDS biasanya menghubungi saya untuk memfasilitasi peserta”, demikian kata pak Hairudin kepada kami.

Dia mengaku pernah mengikuti kegiatan seperti ini 2 kali yang pertama di Aula Infokom dan yang ke dua dan ke tiga di Ruang Pertemuan Hotel Baliem Pilamo ini. “Wah saya senang sekali mengikuti kegiatan ini, karena sangat bermanfaat dan bisa membagikan ilmu ke generasi muda masyarakat dan kalangan umum”, begitu ungkapan perasaan bapak 4 anak ini setelah mengikuti kegiatan ini.

Program workshop Saluran Harapan pertama kali dibangun oleh CABSA (Lembaga Nirlaba di Afrika Selatan) yang kemudian diadaptasi oleh World Vision dan dijadikan model program inti HIV & AIDS World Vision di seluruh dunia.

Pak Hairudin juga mengatakan bahwa “Istri saya yang selalu mengingatkan jika ada kegiatan yang cukup tinggi dan sampai menginap kesana kemari, yang penting bisa jaga diri “. Bapak ini juga menyarankan anak-anak untuk berhati-hati jika bergaul apalagi sekarang sudah ada narkoba dan seks bebas. Hal ini dikatakannya mengingat anaknya sudah ada yang berumur pemuda dan remaja.

Dituliskan oleh Willy Nugroho untuk Eruwok Development

Posted by Willy Sitompul

Friday, March 18, 2011

Musrenbangda Lanny Jaya - March 14, 2011

Sebagai salah satu upaya pemerintah kabupaten Lanny Jaya untuk membuat perencanaan dari bawah maka diadakanlah Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah (Musrenbangda) Kabupaten Lanny Jaya pada tanggal 14 Maret 2011 yang lalu. Musrenbangda ini diikuti oleh berbagai SKPD di level pemerintahan dan dilaksanakan oleh Bappeda kabupaten Lanny Jaya di Tiom ibukota Kabupaten Lanny Jaya.
Musrenbangda ini dibuka oleh pelaksana tugas Bupati Lanny Jaya Bpk. John Way setelah terlebih dahulu ketua Bappeda selaku panitia menyampaikan laporannya sehubungan dengan Musrenbangda yang akan diadakan tersebut. Musrenbangda kali ini juga menampilkan beberapa presentasi dari berbagai kedinasan yang dirasa mempunyai dampak banyak di masyarakat diantaranya Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Kesehatan dan Sosial, serta Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lanny Jaya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan membagi ke dalam beberapa kelompok seperti kelompok Pembangunan Fisik, kelompok Ekonomi, Kelompok Hukum dan tata pemerintahan, serta kelompok Sosial Budaya. Sebagai satu-satunya lembaga sosial non pemerintah yang diundang dan hadir pada saat itu Wahana Visi Indonesia - ADP Eruwok diminta bergabung ke kelompok Sosial Budaya.


Dalam dinamika kelompok Wahana Visi Indonesia memberikan kontribusi sangat banyak terkait berbagai usulan aktifitas yang ditawarkan oleh kedinasan seperti Dinas Kesehatan dan Sosial serta Dinas Pendidikan. Berbagai tawaran kerjasama muncul dan ditawarkan oleh berbagai kedinasan. Salah satu hal yang paling menarik adalah ucapan terimakasih yang dilontarkan oleh Dinas Kependudukan, Catatan Sipil, Transmigrasi dan Tenaga Kerja (panjang ya nama dinasnya...) oleh karena partisipasi Wahana Visi Indonesia - ADP Eruwok yang telah membantu dengan cara "jemput bola" dalam rangka mewujudkan Akta Lahir gratis bagi anak-anak di bawah usia 18 tahun di seluruh wilayah kabupaten Lanny Jaya.



Dalam dinamika kelompok juga dirasakan peran WVI yang sangat besar di bidang pendidikan. Salah satu pengakuan datang dari kepala dinas pendidikan yang berkata:" WVI ini..dong hebat..bisa bikin kegiatan dengan budget kecil..." begitu ucap Bpk. Agus Howay kepala dinas Pendidikan kabupaten Lanny Jaya saat diskusi kelompok di sektor pendidikan.

Ke depannya peran WVI yang sudah sangat dianggap oleh pemerintah daerah harus semakin digalakkan dan jangan sampai menurun. Berbagai aktifitas dan janji yang ditawarkan pemerintah daerah harus di follow up dan dilaksanakan dengan baik sehingga kepercayaan Pemda kepada Wahana Visi Indonesia tetap terjaga dengan baik.

Posted by Willy Sitompul for Eruwok Development

Tuesday, November 2, 2010

Community-Lead Total Sanitation (CLTS) in Dukom Village

High incidences of diarrhea cases in Dukom Village (Tiom sub district) raise awareness in the community. They curious and wonder what is the caused of this situation. WV then facilitated the community using method of Community-Lead Total Sanitation (CLTS). In this method, WV did not directly point to solutions but building community curiosity and knowledge as they will find their own solutions.

At first, village mapping was made.

Community map several places where they used to defecate or location where they used to find feces. They then connect those places with some incidence of diarrhea that happened and then they found correlation between it. Although some houses already equipped with private sanitation facilities, still the habit of open defecation happened among community. Their work that consume most of their time in the field has forced them to still practice open defecation habit.

Community-Led Total Sanitation (CLTS) focuses on igniting a change in sanitation behavior rather than constructing toilets. It does this through a process of social awakening that is stimulated by facilitators from within or outside the community. It concentrates on the whole community rather than on individual behaviors. Collective benefit from stopping open defecation (OD) can encourage a more cooperative approach. People decide together how they will create a clean and hygienic environment that benefits everyone.

It is fundamental that CLTS involves no individual household hardware subsidy and does not prescribe latrine models. Social solidarity, help and cooperation among the households in the community are a common and vital element in CLTS. Other important characteristics are the spontaneous emergence of Natural Leaders (NLs) as a community proceeds towards ODF (Open Defecation Free) status; local innovations of low cost toilet models using locally available materials, and community-innovated systems of reward, penalty, spread and scaling-up. CLTS encourages the community to take responsibility and to take its own action.

In its fullest sense, total sanitation includes a range of behaviors such as: stopping all open defecation; ensuring that everyone uses a hygienic toilet; washing hands with soap before preparing food and eating, after using the toilet, and after contact with babies’ feces, or birds and animals; handling food and water in a hygienic manner; and safe disposal of animal and domestic waste to create a clean and safe environment. CLTS concentrates on ending open defecation (OD) as a first significant step and entry point to changing behavior. It starts by enabling people to do their own sanitation profile through appraisal, observation and analysis of their practices of OD and the effects these have. This kindles feelings of shame and disgust, and often a desire to stop OD and clean up their neighborhood.

After learn knowledge and doing village mapping, community of Dukom village then made a deal in form of agreement between village inhabitant and village leaders not to do open defecation anymore. They also agreed to build latrines in places where OD often occurs. “We really hope by practicing this new habit will lower the number of diarrhea cases in our village” said Yemiles Weya one of the participants.










Written by Willy Sitompul for Eruwok Development